Thursday, February 25, 2016

Case #13.1

Sejuk. Ringan. Segar. Berada dalam sebuah ruang kecil berdinding kaca fiber, Rico menengadahkan kepala, menikmati rintik deras air yang menghujani kepalanya, turun menelusuri tiap senti kulitnya hingga ujung-ujung jemari kaki. Mendadak kenikmatan itu teralihkan.
Bukan soal Rico yang satu sisi merasa lega bisa berada lebih dekat dengan kakaknya. Bukan.
Rico ingat ketika ia datang tiga hari lalu, diantar malam-malam dengan feri bersama Adrian dan beberapa partisipan lain dari pelabuhan di pesisir utara menuju sebuah pulau. Rombongan bus khusus kemudian menjemput dan membawa mereka pada bangunan besar yang nampak luarnya tidak jauh beda dengan pangkalan militer atau penjara kriminal kelas hiu—terlalu berlebihan bagi kakap jika diberikan keamanan super ketat macam tempat ini, ia pikir. Ponsel disita. Entah para petugas berpakaian serba hitam itu menyimpannya di mana, dan Rico teringat bahwa ia belum sempat pamit kepada ayah-ibunya. Ia terlalu sibuk bertanya pada orang-orang di sekitarnya soal kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di depan.
Paling tidak ia cukup terhibur saat bertemu kembali dengan teman-temannya lagi di beberapa jam setelahnya. Namun tetap saja.
Dengar-dengar, sepuluh kilometer di timur tempat ini ada sebuah kota kecil.
Tapi kabur bukan pilihan mendapati seramnya senapan-senapan yang ditenteng oleh para petugas keamanan (orang-orangnya pun nampak menyeramkan) serta deteksi sistem yang Kirana sendiri sebut amat sangat beresiko utuk diretas.
Di sisi yang lain, Rico berpikir jika para penculiknya ini begitu baik... Mungkin terlalu baik?
Kamar tiga kali empat meter. Kamar mandi dalam. Air conditioner. Ranjang yang membuat orang tenggelam dalam kenyamanannya setelah lima detik merebahkan diri di atasnya. Rak buku di salah satu tembok, di sampingnya terdapat meja dengan PC yang tersambung dengan internet (kecuali jejaring sosial yang terblokir. Sudah Rico duga). Dan entah apa yang ada di pikiran mereka, memberi sebuah kolam ikan kecil di sudut ruangan dengan air mancur mini dengan percikan airnya yang menenangkan. Ibu-ibu peneliti dengan senyum ramahnya yang kerap mampir untuk memeriksa selalu mengingatkan agar jangan lupa memberi makan ikan-ikan itu pula dengan pakan yang ditaruh di meja. Jamuan sarapan, makan siang, dan makan malam bersama partisipan lain di sebuah cafetaria seluas ballroom. Jam bebas beraktivitas tiap pukul tujuh sampai sebelas malam.
Ia teringat masih ada Pengukuran Parameter Fisik setengah jam lagi sampai sebelum makan siang nanti.
Mau sampai kapan Rico ada di tempat ini? Dia masih ada kuliah. Sampai ada mata kuliah yang mewajibkannya untuk mengulang, Paramayodya harus bertanggungjawab.
Menyusul deretan pemikiran yang barusan lewat, Rico mendadak mengacak-acak rambutnya sendiri hingga air yang menempel terpercik ke segala arah. “Aaaaagh! Binguuung!” keluhnya, lalu menghela napas lelah.
Mendadak lampu ruangan berkedip-kedip remang. Kemudian samar-samar terdengar suara seseorang berseru sesuatu. Suara benda menghantam permukaan keras—pintu ruangannya, lebih tepatnya—menyusul dan membuat Rico terlonjak kaget. Terdengar lagi seruan-seruan, makin jelas ketika ia sengaja mematikan aliran air.
Ada dua hal berbeda yang Rico pikirkan bersamaan. Pertama; mengingat tebal tembok ruangan dan jarak posisi antara ia berdiri dengan pintu dan sumber suara, menandakan pendengarannya yang makin menajam. Kedua; sesuatu di luar bukan hal baik. Orang-orang itu panik dan mengerang sakit. Ia sudahi mandinya dan cepat-cepat mengeringkan diri.
Saat Rico melangkah keluar dari kamar mandi, kegaduhan itu tak terdengar lagi. Sempat ia sengaja berdiri diam, sebelum memastikan bahwa memang benar-benar sudah berhenti. Ia kenakan setelan serba putih yang baru, seragam harian untuk kelompok orang seperti posisinya sekarang di laboratorium besar ini. Terbesit olehnya untuk melangkah keluar melihat keadaan, namun ia urungkan setelah menyadari sesuatu.
Keheningan yang begitu kental di balik pintu ini.


Penasaran, Rico berjinjit sedikit untuk melihat lewat jendela kecil yang terletak agak sedikit tinggi di pintu. Ia menyesalinya. Spontan ia membalik badan, punggung menempel erat pada permukaan pintu berat itu. Lututnya mendadak lemas. Mata menatap lebar ke tanah, pupil mengecil.
Lantai merah. Darah di mana-mana. Meski sekilas, Rico melihat tubuh seorang staf tergeletak kaku di lantai, mata membelalak namun buta. Jas dan kemeja putihnya membuat rembesan tinta merah dari luka sayatan yang menganga tercetak sangat jelas.
Apa yang terjadi? Ke mana suara alarm?!
Ruangan ini aman. Ruangan ini aman. Rico merapal kalimat itu dalam hati bersamaan dengan tubuhnya yang merosot turun, terduduk ke lantai. Pintu ini hanya dapat dibuka dengan password tertentu dan biometrik pemilik ruangan atau kode khusus yang dimiliki oleh staf yang berwenang. Bahan penyusun pintu pun turut meyakinkan dirinya bahwa ruang pribadi ini dapat melindunginya.
Benaknya bertengkar. Rico berharap ketika ia melongok keluar lagi, seorang petugas keamanan telah datang dan membereskan kekacauan ini segera. Perasaan lain mengatakan, lebih baik jangan. Naiklah ke ranjang. Selimuti tubuhmu. Tidur!
Setelah satu helaan napas, Rico kembali berjinjit. Penyesalannya berlipat sekarang.
Panjang, merah jambu semu warna kulit, elastis seperti cacing. Sisi bawahnya terdapat lekukan ke dalam, beruas-ruas yang tepiannya mengeluarkan deretan tulang berujung tajam, mirip susunan gigi karnivora. Dua-tiga ‘Sesuatu’ itu melilit tubuh staf yang terbujur kaku tadi, diseret pelan, meninggalkan jejak darah di lantai keramik putih.
Alarm berbunyi nyaring sesaat kemudian. Lorong diselimuti pendaran cahaya merah. Telat! Rico panik. Tiba-tiba kakinya kembali mendapatkan kekuatan untuk mendorong tubuhnya naik ke ranjang. Ia tarik selimutnya, matanya terpejam erat.
Semua kenikmatan di tempat ini bohong. Ruangan ini palsu. Ada makhluk aneh di balik pintu sedang memangsa manusia. Ayahnya selalu bilang, monster itu tidak ada. Semua ini hanyalah ilusi, mimpi buruk. Ia harap ketika membuka mata, ia sudah kembali ke kamarnya di rumah. Ia gigit bibirnya sendiri. Sakit. Tempat ini penjara—bukan. Neraka. Wajahnya makin ia benamkan pada bantal, barisan harapan bertabrakan dengan keputusasaan, pikiran logisnya bertarung dengan konspirasi dan irasionalitas.
Keheningan itu pecah ketika Rico mendengar suara dua orang tengah bercakap-cakap di koridor. Syukurlah.
“PAK! AWAS!” Kemudian suara bedebak, disusul suara seperti logam ringan yang memantul-mantul bising di lantai.
Satu orang baru bersuara. Pola suara orang ini terdengar familiar. Orang itu kemudian terbahak. Kemudian kegaduhan. Seseorang terlempar ke tembok. Satu lagi berteriak menantang.
Rico membuka selimutnya sedikit. Ia merasa lega petugas keamanan datang. Namun rasa penasaran itu tetap di sana, keberaniannya pun pulih. Berjalan pelan mendekati jendela pintu, kemudian terhenti ketika lampu ruangannya kembali berkedip-kedip—lebih tajam dari sebelumnya. Kemudian ia mendengar dengungan, disusul oleh cahaya terang yang berkilat-kilat. Seseorang berteriak kesakitan. Pendar nyala-mati ruangan kini tak berhenti. Rico kembali mengintip, kini jelas siapa pemilik ‘cacing’ tadi yang kini tengah bertarung dengan seorang pria yang tidak tampak seperti petugas keamanan.
Tenggorokan Rico tercekat, mencegahnya untuk menyebut nama orang itu.


= = =

Variable X

Case 13.1: Awakening (Heads)

= = =

Monday, February 22, 2016

Character Files #5: Dana

Yudhistira Banyu Pradana



Usia:
22 tahun, 23 after time skip
Pekerjaan:
Pimpinan divisi Keamanan Project Homunculus ; Pemimpin Mafia Senjata Ilegal Klan "Laut Selatan"
Tinggi:
177 cm


Yudhistira Banyu Pradana (Dana) adalah salah satu tokoh utama Variable X.

Dana mudah dikenali dengan rambutnya yang merah menyala dan luka menyilang di dahinya, jarang terlihat tersenyum (kalaupun senyum, itupun seringai). Posturnya cukup tinggi dan berperawakan atletis. Sebuah belati perak pemberian mendiang ibunya selalu dibawa di balik pinggang.

Ia memiliki ketertarikan yang nyaris tidak sehat pada Adrian.

Dana dipercaya Gama dalam urusan keamanan fisik Proyek Homunculus, bahkan ia diberi kesempatan untuk ikut serta dalam eksperimen. Sifatnya yang haus akan kekuatan, memanfaatkan eksperimen ini sebagai cara untuk mencapai tujuannya.

Penampilan Dana di luar aktivitasnya sebagai bos mafia.
Rambutnya diatur lebih rapi dan berkacamata
.

Salah satu lulusan terbaik dari universitas ternama di Ayodya ini ternyata memiliki sisi gelap yang berkebalikan dengan yang ia perlihatkan pada orang-orang. Dana "terpaksa" menjalani kesehariannya di dunia perdagangan senjata ilegal yang secara tidak langsung adalah warisan dari sang ayah.

Kejadian tragis di masa mudanya membuat pribadinya berubah drastis... termasuk kebiasaan mempermainkan wanita (kadang, lelaki pula).

Dana menjadi seorang yang dingin dan tanpa ampun di hadapan orang-orang yang berusaha menghalangi jalannya, namun ia pemimpin tegas dan penggerak handal di mata anak buah dan rekan-rekannya. Julukanya adalah "Setan Merah" (karena rambut dan matanya)... yang sepertinya tak lagi sekedar julukan.


. . .


Level 4: Red Flash


Setelah diinjeksi, dalam kurun waktu yang terbilang cepat, Dana berhasil mengendalikan energi bioplasmanya sehingga membangkitkan kekuatan homunculusnya yang memberikan kepekaan lingkungan luar biasa serta reflek dan kegesitan secepat kilat. Ketahanan fisik dan regenerasinya turut meningkat jauh. Terbukti saat dirinya ditembak tepat mengenai jantung, meski sempat tumbang beberapa saat, ia kembali bangkit dengan kekuatan berlipat.

Wednesday, January 27, 2016

Case #12

“Mas?”
Gama yang hendak menyeruput tehnya, berhenti sejenak untuk menatap istrinya. “Iya?”
“Aku sedikit heran.”
“Kenapa, Dik?”
“Kamu masih bisa juga tenang meski kemarin ribut-ribut. Yakin, Mas nggak apa-apa?”
Tawa kecil terselip. “Nana, tentu aku nggak mau diriku sendiri berantakan gara-gara kejadian seperti kemarin, kan?” Gama membalas dan melanjutkan apa yang terhenti tadi.
Jam digital di dinding tengah menunjukkan pukul tujuh, sayang matahari harus sedikit terhalangi cahaya hangatnya oleh gumpalan kapas di langit. Sepiring telur dadar telah habis di hadapan kedua sejoli itu, menyisakan sedikit sisa minyak tipis dan sepasang alat makan di atas piringnya. Kini secangkir teh hangat yang menemani percakapan mereka. Keduanya sama-sama telah berpakaian rapi, siap menjalani rutinitas sehari-hari.
“Mas?” Nana kembali memulai.
“Hm?”
Nana melirik ke arah lain sekilas, sedikit menarik napas dalam sebelum bertanya, “Kabar yang kolaps kemarin gimana, Mas?”
Gama menghela napas. “Mereka sudah ditangani kok, sudah dibawa ke Lab Besar. Banyak yang sudah mulai baikan, tapi ada juga yang masih sama. Kuharap bisa selesai sebelum jadwalnya untuk chip ini dirilis… Mau bagaimana juga, apapun bisa terjadi.”
“Begitu, ya… Lalu, gimana dengan dirimu sendiri, Mas?”
Gama mengulas senyum tipis, jemari melingkari bulatan emas pada tongkat yang bersandar di sisi meja. “Aku baik, kok... kondisiku semakin stabil. Mungkin sebentar lagi aku nggak perlu menyetrum orang lain tiap mau jabat tangan. Kita jadi bisa bergandengan tangan seperti dulu lagi, kan?”
Nana menghela napas lega dan menggenggam tangan lain suaminya, “Coba waktu itu aku nggak tanya barang yang dikasih Mas Naharis itu apa. Pasti sampai sekarang kamu nggak cerita sama aku, Mas.”
Gama tertawa menanggapi istrinya, jempol tangan balas mengelus telapak dan jemari lembut Nana sebelum kembali mengangkat cangkir, menyeruput teh yang tersisa seperempatnya. Ia justru mengira Nana akan menolak keras. Beruntung apa yang terjadi adalah sebaliknya, meski ia harus lebih dulu melihat satu dua momen di mana Nana belum utuh menerima.
“Aku dari awal bukan orang yang percaya sama hal-hal ‘begituan’, Mas. Aku bahkan kadang masih nggak bisa menyangka chipnya bisa melakukan hal seperti itu,” Nana bercerita. Kemudian dengan senyum lembut, menatap ke arah lantai, ia berkata, “Ternyata banyak sekali hal di dunia ini yang kita nggak tahu, ya? Aku merasa kecil…”
Kecil.
Satu kata sederhana itu seperti menyenggol sesuatu di dalam diri Gama.
“Aku juga nggak kepikiran jika justru kamu Mas, yang menggali harta tadi dan membagikannya ke semua orang. Kamu juga berani merelakan diri sendiri untuk dipasangi, dengan segala resikonya. Lihat berapa banyak orang yang tertolong.”
Aku tahu.
“Aku cuma berharap, ke depan nanti nggak ada lagi yang sampai punya ‘bonus’ seperti Mas. Hahaha...”
Apa?
Gama menaikkan alis. “Kenapa?”
Piringan cokelat susu hangat itu menatapnya cemas. “Bagaimana jika ada orang lain yang mendapatkan itu bukan orang yang seperti kamu?”
“Maksudmu?”
“Y-ya… Aku sering mendengarnya. Orang-orang spesial yang lebih dulu ‘bangkit’. Katanya… mereka melakukan hal-hal yang mengerikan,” jelas Nana. “Tapi kalau itu kamu Mas, aku percaya kamu takkan melakukan hal-hal itu.”
Layaknya menemukan ladang uranium, mengetahui keberadaan energi bioplasma dan segala potensinya itu. Gama mengangguk pelan, paham betul apa yang dimaksud Nana. Cerita-cerita klasik yang kerap istrinya dengar memang erat dengan hal yang ditelitinya ini, yang tentu suatu saat tirainya akan ia sibak.
Satu hal yang Gama sadari soal uranium—benda itu bersifat abu-abu.
Segalanya di dunia ini sendiri adalah abu-abu.
“Begini, Dik… Itu kembali ke orangnya asing-masing, kan? Entah dia mau memilih untuk mengolahnya menjadi sumber kehidupan atau alat penumpah darah.” ungkap Gama, meletakkan cangkir teh kosongnya pada tatakan. “Bahkan orang-orang yang belum ‘bangkit’ sudah mampu melakukannya dengan keterbatasan mereka saja pada saat itu. Misal kita menemukan bambu—setelahnya mau kita apakan? Menyusunnya menjadi tempat berteduh atau kita runcingkan untuk menghilangkan nyawa orang lain? Proyek ini menyadarkanku tentang sesuatu... apa yang membuat kita, manusia, spesial. Kebebasan untuk memilih. Digabung dengan akal dan nurani… Lihat yang kita sudah perbuat, kan? Manusia adalah makhluk paling luar biasa yang ada di dunia ini.”
Lembutnya sepasang piringan kelabu logam itu terasa berbeda, setidaknya ini baru apa yang Nana dapatkan ketika bertatapan dengannya.
Intens, mata lelaki itu seolah menayangkan penjabaran semua yang telah dilihatnya.
“Cukup dengan membayangkan, mengulang apa yang kita mau dan pilih di benak kita, tubuh seolah digerakkan hingga meraihnya. Dengan cara apapun, tak peduli jarak yang harus ditempuh. Tapi manusia tidak hidup sendiri kan, Nana? Tiap orang punya urusan dan tujuannya masing-masing. Saat kita dengan cara apapun berusaha menyelesaikan urusannya sendiri-sendiri, tahu apa yang terjadi? Kekacauan.
“Maka dari itu muncullah batasan. Batasan-batasan itu yang sering kita sebut dengan hukum, agama, atau apa saja yang serupa. Batas-batas inilah yang membuat manusia dan lingkungan sekitarnya dapat hidup berdampingan. Sayang tidak semua orang paham—haha—atau bahkan, sengaja tidak mau paham mengenai batas-batas itu di mana secara bersamaan mereka pun sadar akan akibatnya pula, kan?”
Aliran kalimat suaminya merangkul dan merasuk, Nana tak mampu berkomentar sepatah kata.
Nadia Setyaningrum mungkin termasuk dari satu banding sekian wanita beruntung. Perlukah Nana sebutkan sudah berapa kali suasana seperti ini terulang di antara keduanya di beberapa kesempatan terakhir? Kecemasan Nana sanggup dihanyutkan sedikit demi sedikit oleh Gama, mengembalikan rasa hangat dan senyumnya lagi dengan kalimat-kalimat mutiara terbalut oleh suara yang menenangkan.
“Aku selalu percaya jika tidak ada ‘kebetulan’ dalam sebuah peristiwa. Selalu saja ada hal di balik itu semua yang takkan mungkin kudapatkan jika aku mengalami peristiwa yang berbeda. Jadi apa yang kumiliki ini, Nana…” Gama mengalihkan pandangan pada satu telapak tangannya, tersenyum lembut. “Kamu menyebut ini efek samping. Bagiku berbeda. Ini anugrah. Berkah. Artinya, aku akan bertemu dengan peristiwa yang memberikanku maksud dan alasan memiliki ini tidak lama lagi.”
.
Tidak perlu menunggu.
.
“Dik, kamu takut jika ada orang lain yang dikaruniai kelebihan serupa justru melangkahi batas dan melakukan hal yang mengerikan, kan?”
Wajah Nana terangkat, menghadap sisi samping wajah suaminya yang tengah menatap keluar jendela. Sedikit terbata, Nana menjawab, “I-iya, Mas. Kenapa?”
“Boleh aku berjanji membuatkan ‘tempat itu’ untuk kita?”
Wanita bersurai gelap sebahu itu sedikit mengerenyitkan dahi, bingung. “Tempat apa…?” gumamnya.
“Tempat di mana harapan senantiasa hadir, tiada ketakutan, semua bersinergi. Harmonis.” Kemudian Gama menoleh, senyumnya yang hangat dengan tulus mengucapkan, “Di sana, kita akan hidup bahagia—sampai ajal memisahkan kemudian mempersatukan kita kembali.”


= = =

Variable X

Case 12: Conspiracy


= = =



Sunday, January 3, 2016

Character Files #4: Rico

Rico Hendriksen



Usia:
19 tahun, 20 after time skip
Pekerjaan:
Mahasiswa, atlet
Tinggi:
174 cm

Rico Hendriksen (Rico) adalah salah satu tokoh utama Variable X.

Mahasiswa ini adalah ace dari tim basket universitasnya. Semangat dan percaya diri, membawakan kehangatan bagi orang-orang di sekitarnya. Rico berdarah campuran, memiliki seorang kakak tiri bernama Nico (beda ibu, satu ayah). Bersahabat dekat dengan Theo yang juga sesama pecinta olahraga sekaligus anggota andalan tim basket universitas. Kini ia dikabarkan sedang dekat dengan seorang gadis dari fakultas IT.

Pada awalnya, Rico nampak netral dengan desas-desus eksperimentasi manusia yang dilakukan Paramayodya. Namun seiring dengan perkembangan berita yang beredar di kalangan kawan-kawan satu lingkarannya, ia mulai terbawa arus. Rico memantapkan hati untuk ikut terjun ke dalam misi setelah melihat kakaknya sendiri yang mengikuti eksperimentasi itu, terlebih setelah Nico mengalami anomali.

Monday, December 14, 2015

Status Report #4: Vices and Virtues

Fay di sini, melapor.

Menyambut story arc baru, mungkin bagian ini yang ditunggu-tunggu...

Pembukaan tirai tokoh utama Variable X !!!

Kiri ke kanan: Gamananda Agastya (Gama), Bramantya Wijaya (Bram), Yudhistira Banyu Pradana (Dana),
Nicolaas Hendriksen (Nico), Willem, Daniel Dimara (Daniel), Prawira Dimas Prakoso (Wira), Rezaditya Garuda (Reza)




Kiri ke kanan: Osvaldo Tanubrata (Aldo), Venndra Kanigara (Venndra), Adrian Adinata Anmar (Adrian),
Rhadeya Ali Surya (Surya), Rico Hendriksen (Rico), Dewika Kirana (Kirana), Theodorus Mahardika (Theo)

Well, then! Sebelumnya, makasih lagi buat Mimin Beruang yang udah ngijinin karakternya jadi aktor (??) di cerita ini!

Case 12 is coming up dalam waktu mungkin kurang lebih dua-tiga minggu ke depan karena author mau sibuk beres-beres kuliah dulu. Final project dan UAS menunggu~

Makasih buat kawan-kawan pembaca yang udah nyimak sampai sejauh ini! Stay tuned for the next update. ;)


+ + + + + + +

@F_Crosser | @agonps

+ + + + + + +

Saturday, December 12, 2015

Character Files #3: Willem

Willem


Usia:
37 tahun
Pekerjaan:
Pimpinan peneliti Paramayodya
Tinggi:
176 cm


Willem adalah salah satu dari tokoh utama Variable X.

Sang pencetus teori penulisan ulang DNA yang menjadi dasar dimulainya Homunculus Project. Seorang peneliti yang mengabdikan diri sepenuhnya pada ilmu pengetahuan, hingga memutuskan untuk tak membangun keluarga. Relasi terdekatnya dengan Gama, teman semasa menempuh pendidikan, juga relasi dengan rekan jeniusnya Venndra.

Seorang jenius yang ingin hidupnya segera terpenuhi tanpa banyak pengorbanan karena baginya, teknologi adalah ciptaan manusia untuk memudahkan hidup. Dengan kecerdasan dan orang-orang terpercaya yang dimilikinya, ia percaya bisa segera mencapainya. Master mind, ia menganggap dirinya sendiri demikian.

Tuesday, December 8, 2015

Case #11

Sepatu bot lelaki bersurai kelabu itu mengetuk-ketuk lantai dengan ajek. Gelisah. Duduk di kursi panjang dari logam, ia tampak ragu. Satu per satu orang di sebelahnya bergeser, yang ada di ujung satunya berdiri dan masuk ke ruangan begitu namanya disebut.
“Kalau saja si brengsek itu ada di sini,” gumam Arya sambil mengepalkan tangannya.
“Siapa? Dana?” Suara berat yang familiar terdengar mendekat. Pria kecil itu menoleh dan didapatinya si partner yang berjalan dengan seringai. Penampilannya sedikit berbeda dengan biasanya mengingat ini adalah pakaian tugas. Jaket kulit yang biasa ia pakai digantikan dengan rompi hitam, tak lagi mengenakan kaos di dalam melainkan baju putih berkerah tinggi yang lengan panjangnya sengaja ia gulung sampai siku. Bawahannya berupa setelan celana panjang berwarna senada serta sepasang sepatu bot tentara hitam yang membungkus kaki hingga betis.
“Hai, keparat. Nampaknya kau sedang senang,” Arya berkomentar melihat Wira bersandar di tembok dengan ekspresi sumringah. Tidak biasanya bocah temperamental ini menyunggingkan senyum lebar di bibirnya. Hanya ada dua hal yang bisa membawa ekspresi itu terpasang pada wajah Wira: saat sedang menghajar lawan yang menarik atau ada kabar bagus dari gurunya, Dana.
“Coba tebak, cebol.”
“Tidak perlu, langsung tepat sasaran. Dana meminta pada Pak Gama untuk menginjeksi kita dengan chip yang sama, yang kau dan Dana miliki.”
“Hampir tepat, kurcaci.”
Arya menghela napas. “Kesenangan yang meluap-luap karena kita akan segera menghajar Pesisir Utara?”
“Heh. Tumben cerdas.” Wira tertawa sambil memukul kepala Arya dengan telapak tangannya. Beberapa kali, hingga akhirnya Arya mendorong partnernya sedikit menjauh. Wira lalu bergumam, “Plus, para Veteran akan ikut serta.”
“Tidak kusangka, bos proyek ini benar-benar menepati janjinya pada Dana.” gumam Arya. Sebenarnya dirinya sendiri masih ragu, apakah kelompok mereka benar-benar diberikan kekuatan ini secara cuma-cuma, atau mereka hanya akan berakhir menjadi tikus percobaan dan monster tak berakal. Arya juga menduga, Dana pasti juga bercerita mengenai rencananya untuk berperang melawan kelompok Pesisir Utara. Karena tanpa alasan kuat itu, tidak mungkin para anggota Laut Selatan diperbolehkan memiliki chip yang diproduksi hanya untuk mereka.
“Pak Gama benar-benar murah hati,” Wira memulai. “Bahkan ia bersedia membuatkan kita chip pengembangan khusus yang kekuatannya didasarkan pada kekuatanku dan Dana.” Arya menoleh ke Wira, asap tipis terlihat mengepul dari sudut bibirnya. “Heh, menarik. Kira-kira mereka akan memilih yang mana ya...” Wira menatap ke arah rekan-rekannya yang nampak antusias menunggu di antrian.
Arya mengikuti arah pandang Wira. “Chip dengan kode pengembangan EXT616, huh? Well, aku tidak berharap banyak terhadap kondisi mental mereka nantinya,” ia bergumam.
“Hei, makanya ingat cita-citamu kalau tidak ingin berakhir jadi mereka yang ada di bawah sana.”
“Cita-cita apaan. Kemarahan, untuk kasusmu. Omong-omong gimana tugasmu hari ini, brengsek? Sudah menghajar satu atau dua monster itu?” Kekehan pelan muncul dari pria iris kuning itu.
“Ck. Dua truk sudah kupenuhi dan masih ada tiga lagi. Yang lain sedang berjaga, beberapa minta diinjeksi sekarang, makanya aku sekalian mampir ke sini. Oh ya, kau giliran terakhir omong-omong.”
“Aku tahu, bodoh.” Arya menunduk menatap lantai. Ia teringat saudara kembar perempuannya. Loyalitasnya lebih penting, akan dipertanyakan jika tangan kanan seorang Setan Merah justru menolak rencana ini. Demi pekerjaan, apa boleh buat?
“Kenapa kusut begitu? Santai. Khusus buatmu, kau akan memperoleh dua tipe sekaligus. Milikku dan Dana.”
“A-apa?”
Pintu ruang medis terbuka dan sorakan diteriakkan oleh anak buah Arya, ternyata Trio Arab Bersaudara itu baru saja menyelesaikan tahapan injeksi mereka. Mereka disambut meriah layaknya bintang ternama.
“Bagaimana sensasinya, Fahri? Menyenangkan? Perawatnya cantik?” tanya seorang kepada pemuda ramping berhoodie tersebut.
“Dasar bodoh.” Ia memutar bola matanya. “Tentu saja perawatnya cantik!” Sontak sorakan riuh rendah dilontarkan. “Yah, walau sedikit pegal,” ia mengedikkan lehernya.
“Apa hubungannya, dasar cecunguk,” cibir Wira pelan.
“Raihan, apa komentarmu? Katakan pada mereka dengan jelas,” sambung Fahri sambil menarik turun kefiyeh kota-kotak saudara tuanya itu. Audiens tertawa terbahak melihat ulah si anak tengah.
Buru-buru Raihan membenarkan penutup wajahnya, “B-brengsek!” umpatnya pada si hoodie yang kemudian menghindar dari sabetan tangan kakaknya.
“E-ehm, di dalam tadi, tidak menyakitkan. Sungguh. Kecuali saat pembiusan dan penanaman chip.”
“Itu berarti prosesnya sakit semua, bodoh.” Si kupluk, yang paling muda, kini angkat bicara. “Lagipula setelah diberi anastesi, kalian tidak akan kesakitan. Raihan saja yang penakut.”
Bibir Raihan terbuka hendak mengeluarkan makian balasan, sayang harus tertahan ketika nama terakhir dalam antrian pun disebutkan.
“Arya Egisetya?”
Ia menelan ludah.
“Ayo.” Satu tamparan ringan pada punggung Arya dari Wira sedikit membantu pria kecil itu untuk memberanikan diri.
Hanya satu kata saja yang ia pegang: Setia.
Satu helaan napas, Arya berjalan masuk ke dalam ruangan, diiringi dengan tatapan anak buahnya yang lain.
Begitu masuk, ia disambut oleh beberapa petugas medis dan staf Paramayodya yang lalu mengkonfirmasi identitas Arya dengan daftar dari basis data organisasi. Setelah Arya berganti pakaian dengan pakaian untuk operasi, ia dipersilahkan untuk berbaring telungkup di sebuah tempat tidur medis. Dekat tempat tidur tersebut terdapat mesin bedah robotik, seorang staf mengoperasikan di baliknya.
Kedua kaki dan tangan pria kecil itu lalu diikat dengan sabuk karet. Telinganya mendengar mesin bedah yang mulai dijalankan. Ia menarik napas dalam-dalam.
Ini dia, ucapnya dalam hati.
Rentetan pemindaian ia lewati, memastikan Arya berada pada kondisi prima. Matanya sengaja ia tutup, cukup dengan telinganya ia mengikuti prosedur demi prosedur.
“Tubuh bioplasma stabil, subjek siap. Inisiasi implan chip kode EXT616-09.”
.
Minta maaflah kepada Rengganis setelah ini.
.

= = =

Variable X

Case 11: Recall

= = =